Ikan kerapu bebek dan kerang hijau


IKAN KERAPU BEBEK DAN KERANG HIJAU

IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis)



  1. Nama Lain Ikan Kerapu Bebek

    Nama latin     : Cromileptes altivelis

    Nama indonesia     : kerapu bebek atau kerapu tikus

    Nama dagang     : Humback seabassPolka-dot grouper, atau Hump-backed rocked.

    Nama lokal     : kerapu belida, kerapu sonoh, goropa, dll.

  2. Morfologi Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis)

Kerapu bebek (Cromileptes altivelis) memiliki sirip dorsal (punggung), sirip anal (anus), sirip pektoral (dada), sirip lateral (gurat sisi) dan sirip caudal (ekor). Selain sirip dibagian tubuhnya terdapat sisik yang berbentuk sikloid. Ketebalan tubuh sekitar 6,6 – 7,6 cm dari panjang spesifik dan panjang tubuh maksimal mencapai 70 cm. Ikan ini memiliki gigi canine (gigi yang terdapat pada rahang ikan), Lubang hidung besar berbentuk bulan sabit vertikal. Kulit berwarna abu-abu kehijauan dengan bintik-bintik hitam diseluruh tubuh (Akbar dan Sudaryanto, 2001).

Ciri khasnya terletak pada bentuk moncong yang menyerupai bebek sehingga disebut kerapu bebek.  Tubuh ikan ini memiliki warna dasar abu-abu dengan bintik-bintik hitam berukuran cukup besar dan terbatas jumlahnya. Warna badan bagian atas merah sawo matang, dibagian bawah keputihan dan pada seluruh tubuh baik kepala sampai ujung ekor termasuk siripnya, terdapat noda-noda berwarna coklat tua yang menyebar secara merata.

  1. Habitat dan Penyebaran     .

Ikan kerapu bebek adalah jenis ikan karang yang hanya hidup dan tumbuh cepat di daerah tropis. Habitat kerapu tikus ini di perairan karang dengan kedalaman 0,5 – 3 meter, setelah menginjak dewasa bermigrasi ke perairan yang lebih dalam antara 7 – 40 meter. Perpindahan ikan kerapu biasanya berlangsung pagi atau sore hari. Telur dan larva bersifat pelagis sedangkan kerapu mudah hingga dewasa bersifat demersal sedangkan Tampubolon dan Mulyadi, (1989), menyatakan habitat larva dan kerapu muda adalah perairan pantai dekat  muara sungai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun. Salah satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang.

Daerah penyebaran ikan kerapu meliputi daerah tropis dan subtropis. Menurut Akbar dan Sudaryanto, (2001), ikan kerapu bebek daerah penyebarannya di mulai dari Afrika timur sampai Pasifik barat daya. Di indonesia sendiri kerapu bebek banyak di temukan di perairan pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu di daerah tersebut adalah karena perairan karang yang cukup luas. Secara umum hidup diperairan dengan kedalaman yang relatif dangkal, yaitu berkisar 0,5-40 meter. Dasar perairan yang disukai adalah dengan dasar pasir berkarang.

  1. Makanan Dan Kebiasan Makan

Kerapu bebek tergolong ikan buas (predator) yang memangsa ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan. Kerapu bebek juga mempunyai kecenderungan bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu bebek tidak seperti jenis ikan kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu bebek lebih kecil (Evalawati, Minjoyo dan Karsimin, 2006).    

Ikan ini merupakan ikan karnivora yaitu jenis ikan pemakan daging sebagaimana jenis kerapu dewasa lainnya yang memakan  ikan-ikan kecil dan krustasea sedangkan untuk benih  memangsa larva  moluska (trokovor), kopepoda, zooplankton, cephalopoda dan rotivera. Sebagai ikan karnivor kerapu cenderung menangkap mangsa yang aktif bergerak di dalam kolong air, kebiasaan makan kerapu  malam dan siang hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989).

  1. Kondisi Parameter Lingkungan

Parameter kualitas air merupakan salah satu variabel yang sangat penting untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva yang meliputi : Suhu, pH, DO dan Salinitas.

  1. Suhu

Suhu mempengaruhi aktifitas metabolisme organisme. Suhu yang baik bagi kehidupan kerapu berkisar 20oC – 35oC. Namun suhu optimal untuk pertumbuhan kerapu tikus adalah 27oC – 29oC (Akbar dan Sudaryanto, 2002).

  1. Derajat Keasamaan ( pH )

Pada pH air dapat mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada saat pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktifitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang (Kordi 2005). Kerapu tikus sangat baik bila dipelihara pada air laut dengan pH 7-9.

  1. Oksigen Terlarut ( DO )

Konsentrasi oksigen dalam air dapat berpengaruh pada pertumbuhan dan konsumsi pakan. Sedangkan untuk pertumbuhan ikan-ikan laut, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm, sedangkan kandungan optimum antara 5-6 ppm (Kordi, 2005).

  1. Salinitas

Kesesuaian salinitas sangat berperan dalam proses osmoregulasi tubuh, kondisi yang terbaik untuk pertumbuhan ikan adalah pada saat lingkungan air isotonik dengan tubuh ikan. Salinitas yang ideal untuk pembesaran ikan Kerapu bebek adalah 30 – 33 ppt (Akbar dan Sudaryanto, 2002).

  1. Siklus Reproduksi dan Perkembangan Gonad

Ikan kerapu bersifat hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan apabila ikan tersebut tumbuh menjadi lebih besar atau bertambah tua umurnya. Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Smith, 1982 dalam Evalawati, 2001). Sedangkan Chen (1977) dalam Kordi (2005) mengatakan bahwa pada jenis E. diacanthus kecenderungan  perubahan kelamin terjadi selama massa non reproduksi yakni antara umur 2-6 tahun, tetapi perubahan terbaik terjadi antara umur 2-3 tahun dan perubahan itu terus berlangsung sepanjang tahun kecuali dua bulan selama masa kematangan gonad. Secara garis besar dapat dikatakan peralihan perubahan kelamin akan ada selama tidak dalam musim pemijahan, dan perubahan kelamin segera didapati sesudah pemijahan berlangsung.

Pada umumnya kerapu bersifat soliter tetapi pada saat akn memijah bergerombol, di perairan Indo Pasifik puncak pemijahan berlangsung beberapa hari sebelum bulan purnama pada malam hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Dari hasil pengamatan diwilayah Indonesia, musim-musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni-September dan Nopember-Pebruari terutama di perairan Kep. Riau, Karimun Jawa dan Irian Jaya ( Sugama, 1995).

REFERENSI

Akbar, S dan Sudaryanto. 2001. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek. Penebar Swadaya. Jakarta. 104 hal

Evalawati dkk. 2001. Biologi Kerapu. Balai Budidaya Laut Lampung.

Evalawati, Minjoyo, H., dan Karsimin. 2006. Penggunaan Suplement Probiotik Guna Meningkatkan Kualitas Benih Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) Ukuran Penggelondongan. Buletin Budaya Laut No. 21 Tahun 2006 : 19-25.

Kordi, M.G.H. 2005. Budidaya Ikan Laut : Di Keramba Jaring Apung. Rineka Cipta. Jakarta.

Tampubolon, G.H. dan E. Mulyadi. 1989. Sinopsis Kerapu di Perairan Indonesia. Semarang.

 

 

 

 

 

KERANG HIJAU (Perna viridis)


  1. Nama Lain Kerang Hijau

Nama Latin    : Perna viridis L

Nama dagang     : Green mussel

Nama Indonesia     : Kerang hijau

Nama lokal     : Sirindit, kerang kuku

  1. Morfologi Kerang Hijau

Kerang hijau memiliki anatomi dengan Panjang tubuh antara 6,5 – 8,5 cm dan diameter sekitar 1,5 cm. Ciri khas kerang hijau terletak pada warna cangkangnya yang menimbulkan gradasi warna gelap ke gradasi warna cerah kehijauan. Kerang ini tidak memiliki kepala (termasuk otak), organ yang terdapat dalam kerang adalah ginjal, jantung, mulut, dan anus. Jika dibuat sayatan memanjang dan melintang, tubuh kerang akan tampak bagian-bagiannya. Paling luar adalah cangkang yang berjumlah sepasang, fungsinya untuk melindungi seluruh tubuh kerang. Mantel, jaringan khusus, tipis dan kuat sebagai pembungkus seluruh tubuh yang lunak. Pada bagian belakang mantel terdapat dua lubang yang disebut sifon. Sifon atas berfungsi untuk keluarnya air, sedangkan sifon bawah sebagai tempat masuknya air. Insang, berlapis-lapis dan berjumlah dua pasang. Dalam insang ini banyak mengandung pembuluh darah. Kaki pipih, bila akan berjalan kaki dijulurkan ke anterior. Di dalam rongga tubuhnya terdapat berbagai alat dalam seperti saluran pencernaan yang menembus jantung, alat peredaran, dan alat ekskresi (ginjal).
Kerang hijau dapat mencapai panjang maksimum 16,5 cm, tetapi umumnya ditemukan berukuran 8 cm (GOSLING; 2004).

  1. Habitat dan Penyebaran

Romimohtarto & Juwana (1999) menyatakan bahwa bivalvia mempunyai 3 cara hidup, yaitu; (1) membuat lubang pada substrat seperti cacing kapal “Teredo navalis” (Ship worm); (2) melekat pada substrat dengan segmen seperti tiram (Cassostrea sp); (3) melekat pada substrat dengan benang bysus (bissal threads) seperti kerang kijau (Perna viridis).

Kerang hijau hidup pada perairan estuari, teluk dan daerah mangrove dengan substrat pasir lumpuran serta salinitas yang tidak terlalu tinggi. Umumnya hidup menempel dan bergerombol pada dasar substrat yang keras, yaitu batu karang, kayu, bambu atau lumpur keras dengan bantuan bysus. Kerang hijau tergolong dalam organisme/hewan sesil yang hidup bergantung pada ketersediaan zooplankton, fitoplankton dan material yang kaya akan kandungan organik. Benih kerang hijau akan menempel pada kedalam 1,50-11,70 meter di bawah permukaan air pada saat pasang tertinggi. Yang dalam Tan (1975) menyatakan bahwa kedalaman ideal untuk penempelan kerang hijau adalah 2,45-3,96 meter.

Kerang hijau memiliki sebaran yang luas yaitu mulai dari laut India bagian barat hingga Pasifik Barat, dari Teluk Persia hingga Filipina, bagian utara dan timur
Laut China, hingga Taiwan. Kerang ini jg tersebar luas di perairan Indonesia dan ditemukan melimpah pada perairan pesisir, daerah mangrove dan muara sungai. Di Indonesia jenis ini ditemukan melimpah pada bulan Maret hingga Juli pada areal pasang surut dan subtidal, hidup bergerombol dan menempel kuat dengan menggunakan benang byssusnya pada benda-benda keras seperti kayu, bambu, batu ataupun substrat yang keras.

  1. Makanan Dan Kebiasan Makan

Dilihat dari cara makan maka kerang hijau termasuk dalam kelompok suspension feeder, artinya untuk mendapatkan makanan, yaitu fitoplankton, detritus, diatom dan bahan organik lainnya yang tersuspensi dalam air adalah dengan cara menyaring air tersebut. Tan dalam Suwignyo dkk., (1984) menyatakan bahwa diatom dan detritus adalah merupakan makanan utama kerang hijau, sedangkan larva bivalvia dan gastropoda yang bukan merupakan makanannya dikeluarkan dalam bentuk pseudofaces yang terbungkus dengan lendir. Fox dalam Tan (1975) juga mengatakan bahwa kerang hijau lebih menyukai diatom dibandingkan dengan dinoflagellata sebagai makanannya, dimana secara kualitatif jenis ini dapat memilih (selektif) makanannya. Tan dalam Suwignyo dkk, (1984) juga mengatakan bahwa kerang hijau selalu aktif 24 jam menyaring makanannya secara terus menerus.

Jorgensen dalam Gierse & Pearse, (1979) menyatakan bahwa makanan yang tersuspensi dalam perairan dimanfaatkan oleh kerang dengan jalan menyaring air teresebut. Bahkan jenis lain, yaitu Mytilus edulis juga mampu melakukan seleksi antara fitoplankton sebagai makanannya dengan partikel lumpur yang bukan makanannya. Jorgensen (dalam Tan, 1975) menyatakan bahwa hewan suspension feeder dalam memilih dan atau mengambil makanannya didasarkan pada bentuk, ukuran dan kelimpahan, bukan berdasarkan kualitas atau nilai gizinya.

  1. Kondisi Parameter Lingkungan

Faktor lingkungan yang mempengaruhi kelangsungan hidup kerang hijau adalah suhu, salinitas, tipe dasar perairan, kedalaman, kekeruhan, arus dan oksigen terlarut. kerang hijau tumbuh baik pada perairan yang memiliki salinitas 27-35 o/oo, temperatur antara 27-32ºC, arus yang tidak begitu keras dan hidup pada kedalaman 1-7 m serta mengambil protein nabati sebagai makanannya. Perna viridis menyebar luas di perairan laut dan toleran terhadap perairan yang terkontaminasi logam serta dapat bertahan terhadap fluktuasi salinitas dan suhu.

  1. Daur Hidup dan Pemijahan

Kerang hijau umumnya dioecious, yaitu induk jantan dan betina terpisah, dan pembuahan terjadi di luar rubuh. Kerang hijau dapat dipijahkan dengan cara menambahkan sperma ke dalam air di tempat pemeliharaan yang sudah matang gonad. Kerang hijau matang gonad pertama kali pada umur 60 hari dengan ukuran panjang antara 2,50-2,75 cm. Sedangkan kerang betina memijah pada umur 93 hari dengan panjang sekitar 2,90 cm. Untuk membedakan kerang jantan dan betina dapat dilakukan dengan melihat pada warna gonad. Gonad kerang betina, biasanya berwaran merah hingga orange, sedangkan gonad kerang jantan berwama krem (putih). Pemijahan juga dapat dilakukan dengan cara menganti air yang lama dengan air yang baru, dengan atau tanpa mengubah suhunya. Telur yang sudah dibuahi, umumnya berbentuk bulat dan berukuran sekitar 50 um, sedangkan yang tidak dibuahi berbentuk lonjong. Benih kerang hijau akan menempel pada kedalam 1,50-11,70 meter di bawah permukaan air pada saat pasang tertinggi. Pemijahan kerang hijau berlangsung sepanjang tahun. Di Indonesia, puncak pemijahan kerang hijau terjadi pada bulan april hingga mei, agustus dan november.

Tan (1975) menyatakan fekunditas kerang hijau selalu bervariasi berdasarkan ukuran cangkangnya, dimana kerang yang lebih besar akan menghasilkan jumlah telur yang lebih banyak. Kerang hijau berukuran 3-4 cmmemiliki fekunditas 1,27 x 106; 4-5 cm (1,79 x 106); 6-7 cm (3,71 x 106) dan 7-8 cm (4,26 x 106).

 

 

 

REFERENSI

Cappenberg A.W. Hendrik. 2008. Beberapa Aspek Biologi Kerang Hijau (Perna viridis) Linnaeus 1758. Oseana, Volume XXXIII, Nomor l : 33-40

http://id.wikipedia.org/wiki/Kerang_hijau

 


Arman Mazara Ahmad

Universitas Khairun Ternate

Posted on November 30, 2014, in KATALOG MAZARA. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: