paNgapurone


Mohon Maaf Lahir Batin

Seperti degup jantung yang bertambah cepat jika kita berlari. Seperti mesin kendaraan yang bertambah panas jika terus melaju. Begitupun aku, yang berubah seiring bertambahnya waktu. Berubah dari satu dimensi ke dimensi lainnya. Bisa jadi lebih baik ataupun menjadi lebih buruk. Hal itu terjadi karena Kubermas atau KKN di Sidodadi.

Dulu aku sedikit bicara sehingga terlihat cool. Murah senyum yang menjadikan aku menjadi orang yang menyenangkan, itu kata orang yang mengenalku. Waktu SMP diatas bantal tempat tidur ada buku tebal milik bibiku tentang motivasi karangan Dale Carnegie telah banyak menginspirasiku. Aku meniru sedikit banyak yang tertulis dalam buku itu. Aku di besarkan dengan rotan oleh ayah yang memang tipikal orang maluku. Namun ibuku seorang jawa yang memegang teguh adat istiadat, lemah lembut sekali. Saat kuliah aku menjadi berbeda. Aku jadi membenci kota, dia merenggutku terlalu banyak. Tapi masih banyak hal yang belum ku tinggalkan, masih aku yang seperti dulu. Sewaktu KKN seolah-olah seluruh memori terflash back kembali. Ada sesuatu atau seseorang tepatnya yang menjadi penyebabnya. Mirip denganku waktu dulu, namanya Fitriyani atau Fit akrabnya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi, Universitas Khairun (UNKHAIR) Ternate.

Kita bahas Fit sekarang…!

Ia cool, santai, baik, perfectionis, ontime and bertanggung jawab. Setelah lebih dari sebulan temen-temen lain masih belum mengerti jalan pikirannya. Tapi sepertinya aku sudah mengerti betul jalan pikirnya…? Apa targetnya…? Kenapa ia berbuat seperti ini…? atau kenapa dia begitu…? Aku bisa menjawab semua kalau pertanyaan itu disodorkan padaku. Bukankah sebelumnya aku berkata kalau dia mirip aku waktu dulu.

Lupakan tentang itu sejenak. Aku bukan akan membahas hal semacam itu. Aku akan membahas hal lain. Tapi terkadang aku kesulitan membahasnya lewat bahasa formal. Bagaimana kalau lewat bahasanya orang sastra..!! Menggunakan kata-kata yang memiliki Rima dengan akhiran huruf vokal (huruf hidup).

Wajah sendu dan syahdu. Terlihat lesu tapi tak begitu. Hanya berbicara jika perlu. Itupun tak selalu. Menganggap masalah seperti angin lalu. Kemudian diam begitu. Lalu di ujung jalan dia terpaku. Tertegun mencari seseorang berlalu. Kemudian bisu. Adakah pangeran di situ? Begitu tanyanya pada Sang Tetua Tabu. Lalu merindu. Jalan pikiran yang sulit ku tahu. Akankah maju, bantu, rindu atau berlalu.

Jalan setapak yang kau lewati. Ku harap tak berduri. Menyakiti kaki atau hati. Jalan setapak itu haruslah menyinari seperti mentari pagi. Atau kabut indah di Sidodadi._.(a.m.a)

Pagi hari aku dan Fahmi kelayaban sesuka hati. Kalau fahmi cari ciki-ciki, kalau aku cari maunya hati. Ke sana kemari, tiba-tiba sudah di tempatnya mimi & umi. Ada yang lagi nyuci, ada juga yang nyapu pagi sekali seperti suanggi. Kalau kabut sudah berhenti, mereka ngerumpi bersama ibu sri sambil buat tahu isi. Nggak Cuma sampe di sini. Abis itu mereka lari-lari kecil ke balai desa sidodadi. Pertanyaan mereka selalu, buat apa kita hari ini?. Kalau temen-temen nggak respon mereka cuma duduk di kursi atau di depan tv. Yang umi ngerumpi, yang mimi fitri diem datar, cuma kadang respon sesekali. Kalau tiba waktunya berdoa pada Ilahi. Mereka selalu bertanya, jam berapa ini? Abis itu mereka ambil air wudhu and masuk kamar Jul kakaknya Fahmi. Nggak lama mereka keluar sambil muka berseri-seri.

Kemarin (sabtu 4 okt) aku bilang sesekali datang pake dress biar sweeety. Soalnya dia jarang pake jeans di sidodadi. Jadi mataku dah terbiasa lihat dia pake dress yang membuatnya nampak sweety. Waktu minggu malam nia sms fit supaya kemari. Tak tahunya nia di sms harus datang di tahlilan temennya yang meninggal ke 100 hari. Fit datang ke rumah ketemu fahri. Tapi fahri bilang ke aku, yang datang dia pikir bidadari. Hihihihihi…!!! Dia pangling setengah mati. Ku pikir cuma dia, tapi setelah aku ketemu di jalan, luar biasa. Itu ternyata fitri. Aku nggak ngimpi apalagi crazy. Dia lain nggak seperti di ternate sehari-hari. Mungkin karena hari ini hari raya haji. Ya sudahlah, aku nggak ingin membahasnya lagi. Aku Cuma pengen bilang sorry, sorry, sorry. Udah nunggu sampe jamuran, kayak udah berhari-hari. And kostum hari raya hajinya keren so sweety. Pipi.

Aku udah nggak dapet inspirasi mau buat apa lagi. Cukup di sini nanti di sambung lain hari. Wassalamualaikum aja buat Mimi.

Ini ku sadurkan puisi karangan Jalaludin Rumi, beliau lahir di Balkh (sekarang Afganistan). Beliau adalah seorang penyair sufi.

Kerana Cinta

Kerana cinta duri menjadi mawar

kerana cinta cuka menjelma anggur segar

Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota penawar

Kerana cinta kemalangan menjelma keberuntungan

Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar

Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti taman

Kerana cinta api yang berkobar-kobar

Jadi cahaya yang menyenangkan

Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari

Kerana cinta batu yang keras menjadi lembut bagaikan mentega

Kerana cinta duka menjadi riang gembira

Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat

Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus

Kerana cinta sakit jadi sihat

Kerana cinta amarah berubah menjadi keramah-ramahan.

All Expression dari Mimi Fit











Posted on Oktober 6, 2014, in KATALOG MAZARA. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. wuihhhhh mantap pipi Mazara. mimi I love U. kata2x mengalir kayak bendungan air panas… hangat dan ringan …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: