Manajemen Kualitas Air Pada Balai Budidaya Benih Udang

Tugas : Manajemen Kualitas Air

MANAJEMEN KUALITAS AIR

PADA BALAI BUDIDAYA BENIH UDANG

 

DI SUSUN OLEH :


M. ARMAN AHMAD
051609013

MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

KATA PENGANTAR 

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul “manajement kualitas air pada balai budidaya benih udang” ini dapat diselesaikan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dengan segala kemampuan yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikan manajemen kualitas air pada balai bididaya udang. Dan dengan adanya makalah ini, kami segenap penyusun berharap sedikit membantu para pembaca dan penyusun sendiri dalam memehami cara menerapkan kansep manajemen air dengan benar. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isinya, maka kami segenap penyusun dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, kami menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada teman-teman angkatan maupun senior fakultas perikanan dan ilmu kelautan yang bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Manajement Kualitas Air. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.

Ternate, November 2011

Penyusun

Kelompok

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar isi

BAB I       PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

BAB II   TINJAUAN PUSTAKA

  1. Kualitas Air

BAB III    PEMBAHASAN

  1. Sarana dan Prasarana
  2. Keberhasilan Dalam Manajement Kualitas Air

BAB IV PENUTUP

    4.1 Kesimpulan

    4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

  1. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Perairan tambak dapat dianalogikan sebagai ‘rumah’ dan lingkungan tempat dimana udang tinggal dan melakukan aktifitasnya serta berinteraksi dengan organisme lainnya. Pengelolaan kualitas air tambak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan udang berarti menyediakan tempat tinggal bagi udang sehingga udang merasa ‘betah’ hidup di dalamnya dan dapat menjalankan kehidupannya dengan normal di lingkungannya. Sebagai upaya menciptakan kondisi tersebut, maka sebelum menyiapkan tempat tinggal yang nyaman bagi udang perlu dipertimbangkan sifat dan behaviour udang agar lingkungan perairan sesuai dengan karakteristik sifatnya, yaitu antara lain ;

  1. Udang bersifat demersal, yaitu hidup di dasar perairan sehingga dalam pengelolaan kualitas air perlu mempertimbangkan kondisi dasar tambak yang dibutuhkan udang.
  2. Udang bersifat nocturnal, yaitu aktif pada malam hari sehingga perairan tambak perlu disesuaikan dengan proses biologi, kimia, fisika dan ekologi yang terjadi di dalamnya terutama pada malam hari.
  3. Udang bersifat phototaksis negatif, yaitu menghindari adanya cahaya secara langsung. Sifat ini berhubungan dengan pengelolaan kecerahan air tambak yang dapat menghalangi penetrasi cahaya secara langsung.
  4. Kanibalisme, yaitu pemangsaan yang dilakukan udang terhadap udang lainnya yang lebih lemah. Sebagai usaha mengurangi terjadinya kanibalisme maka perairan tambak perlu didukung dengan ketersediaan pakan alami yang cukup dan kondisi dasar tambak memungkinkan bagi udang yang berada dalam kondisi lemah untuk berlindung dari pemangsaan.
  5. Moulting, yaitu proses alami pertumbuhan udang dengan cara berganti kulit atau sebagai respons terhadap perubahan lingkungan yang bersifat drastis.Pengelolaan air tambak sedapat mungkin tidak menimbulkan guncangan terhadap keseimbangan perairan agar tidak terjadi moulting massal, karena pada saat moulting udang berada dalam kondisi yang lemah dan sangat rentan terhadap penyakit dan pemangsaan.
  6. Tingkat kebutuhan udang terhadap kualitas perairan relatif berubah berdasarkan umur udang

Pengelolaan kualitas air tambak yang tidak memperhatikan kondisi, kebutuhan dan sifat udang akan menyebabkan bertambahnya tingkat ‘kegelisahan’ udang di dalam tambak dan selalu berusaha untuk keluar dari lingkungan tersebut, meskipun kualitas air tambak sudah sesuai dengan tolok ukur yang digunakan. Pada kondisi seperti ini udang menunjukkan perilaku yang tidak normal dari biasanya sebagai indikator adanya ketidaksesuaian kualitas perairan dengan kebutuhan udang. Beberapa parameter yang dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan adalah sebagai berikut :

  1. Kecerahan air tambak.
  2. Warna air tambak.
  3. Kondisi dasar tambak

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Kualitas Air

Kualitas air dalam budidaya perairan meliputi faktor fisika, kimia dan
biologi air yang dapat mempengaruhi produksi budidaya perairan (Boyd, 1990).
Udang sangat peka terhadap perubahan kualitas air. Kualitas air yang buruk
dapat mengakibatkan rendahnya tingkat kelangsungan hidup (survival rate),
pertumbuhan dan reproduksi udang. Sebagian besar manajemen kualitas air
ditujukan untuk memperbaiki kondisi kimia dan biologi dalam media budidaya
(Boyd et al., 2002). Faktor fisika sering tidak dapat dikontrol atau tergantung
dengan pemilihan lokasi yang sesuai. Faktor fisika sangat tergantung dengan
kondisi geologi dan iklim suatu tempat (Boyd, 1900).

  1. Faktor fisika

Faktor fisika air merupakan variabel kualitas air yang penting karena
dapat mempengaruhi variabel kualitas air yang lainnya. Faktor fisika yang besar
pengaruhnya terhadap kualitas air adalah cahaya matahari dan suhu air. Kedua
faktor ini berkaitan erat, dimana suhu air terutama tergantung dari intensitas
cahaya matahari yang masuk ke dalam air. Cahaya matahari dan suhu air
merupakan faktor alam yang sampai saat belum bisa dikendalikan.

a. Cahaya matahari

Cahaya matahari mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kualitas air secara keseluruhan, karena dapat mempengaruhi reaksi-reaksi yang terjadi dalam air. Penetrasi cahaya matahari ke dalam air terutama dipengaruhi oleh sudut jatuh cahaya terhadap garis vertikal. Semakin besar sudut jatuhnya, maka penetrasi cahaya matahari semakin menurun. Cahaya akan berubah kualitas spektrumnya dan turun intensitasnya setelah menembus massa air disebabkan karena dispersi dan absorpsi yang berbeda-beda oleh lapisan air. Pada air murni kira-kira 53% dari cahaya yang masuk akan ditransformasi ke dalam bentuk panas dan selanjutnya akan padam pada kedalaman kurang dari satu meter (Boyd, 1990). Cahaya dengan panjang gelombang panjang (merah dan jingga) dan panjang gelombang pendek (ultra violet dan violet) lebih cepat padam dibandingkan dengan panjang gelombang sedang atau intermediate (biru, hijau

dan kuning). Turbiditas (kekeruhan) akan menurunkan kemampuan air untuk meneruskan cahaya kedalamnya. Di kolam, turbiditas dan warna air disebabkan oleh koloid dari partikel-pertikel lumpur, organik tcrlarut dan yang paling besar disebabkan oleh densitas plankton (Hargreaves, 1999).

Cahaya matahari sangat diperlukan oleh tumbuhan air sebagai sumber energi untuk melakukan fotosintesis. Sebagai produsen primer, tumbuhan hijau melakukan fotosintesis untuk menghasilkan oksigen dan bahan organik, yang akan dimanfaatkan oleh hewan yang lebih tinggi tingkatannya dalam rantai makanan (Ghosal et al. 2000).

b. Suhu air

Suhu air dipengaruhi oleh : radiasi cahaya matahari, suhu udara, cuaca dan lokasi. Radiasi matahari merupakan faktor utama yang mempengaruhi naik turunnya suhu air. Sinar matahari menyebabkan panas air di permukaan lebih cepat dibanding badan air yang lebih dalam. Densitas air turun dengan adanya kenaikan suhu sehingga permukaan air dan air yang lebih dalam tidak dapat tercampur dengan sempurna. Hal ini akan menyebabkan terjadinya stratifikasi suhu (themal stratification) dalam badan air, dimana akan terbentuk tiga lapisan air yaitu : epilimnion, hypolimnion dan thermocline. Epilimnion adalah lapisan atas yang suhunya tinggi. Hypolimnion ialah lapisan bawah yang suhunya rendah. Sedangkan thermocline adalah lapisan yang berada di antara epilimnion dan hypolimnion yang suhunya turun secara drastis (Boyd, 1990). Dalam kolam budidaya, kondisi semacam ini dapat diatasi dengan pengadukan air oleh aerator atau kincir (paddle wheel).

c. Kecerahan

Kecerahan (transparancy) perairan dipengaruhi oleh bahan-bahan halus yang melayang-layang dalam air baik berupa bahan organik seperti plankton, jasad renik, detritus maupun berupa bahan anorganik seperti lumpur dan pasir (Hargreaves, 1999). Dalam kolam budidaya, kepadatan plankton memegang peranan paling besar dalam menentukan kecerahan meskipun partikel tersuspensi dalam air juga berpengaruh. Plankton tersebut akan memberikan warna hijau, kuning, biru-hijau, dan coklat pada air (Boyd, 2004a). Selanjutnya dikatakan bahwa kedalaman air yang dipengaruhi oleh sinar matahari (photic zone) di danau atau tambak sekitar dua kali nilai pengamatan dengan menggunakan secchi disk.

Semakin kecil kecerahan berarti semakin kecil sinar matahari yang masuk sampai dasar tambak yang dapat mempengaruhi aktvitas biota di daerah tersebut.

d. Muatan padatan tersuspensi

Muatan padatan tersuspensi (MPT) berasal dari zat organik dan anorganik. Komponen organik terdiri dari fitoplankton, zooplankton, bakteri dan organism renik lainnya. Sedangkan komponen anorganik terdiri dari detritus partikelpartikel anorganik (Hargreaves,1999). Selanjutnya dikatakan bahwa MPT berpengaruh terhadap penetrasi cahaya matahari ke dalam badan air. Hal ini berpengaruh pada tingkat fotosintesis tumbuhan hijau sebagai produsen primer yang memanfaatkan sinar matahari sebagai energi utama. Kekeruhan karena plankton jika tidak berlebihan bermanfaat bagi ekosistem tambak. Jika densitas plankton terlalu tinggi akan menyebabkan fluktuasi beberapa kualitas air seperti pH dan oksigen terlarut.

2.1.2. Faktor kimia

Air yang digunakan untuk budidaya udang atau organisme perairan yang lain mempunyai komposisi dan sifat-sifat kimia yang berbeda dan tidak konstan. Komposisi dan sifat-sifat kimia air ini dapat diketahui melalui analisis kimia air.

Dengan demikian apabila ada parameter kimia yang keluar dari batas yang telah ditentukan dapat segera dikendalikan. Parameter-parameter kimia yang digunakan untuk menganalisis air bagi kepentingan budidaya antara lain :

a. Salinitas

Salinitas dapat didefinisikan sebagai total konsentrasi ion-ion terlarut dalam air. Dalam budidaya perairan, salinitas dinyatakan dalam permil (°/oo) atau ppt (part perthousand) atau gram/liter. Tujuh ion utama yaitu : sodium, potasium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat mempunyai kontribusi besar terhadap besarnya salinitas, sedangkan yang lain dianggap kecil (Boyd, 1990). Sedangkan menurut Davis et al. (2004), ion calsium (Ca), potasium (K), dan magnesium (Mg) merupakan ion yang paling penting dalam menopang tingkat kelulushidupan udang. Salinitas suatu perairan dapat ditentukan dengan menghitung jumlah kadar klor yang ada dalam suatu sampel (klorinitas). Sebagian besar petambak membudidayakan udang dalam air payau (15-30 ppt). Meskipun demikian, udang laut mampu hidup pada salinitas dibawah 2 ppt dan di atas 40 ppt.

b. pH

pH didefinisikan sebagai logaritme negatif dari konsentrasi ion hydrogen [H+] yang mempunyai skala antara 0 sampai 14. pH mengindikasikan apakah air tersebut netral, basa atau asam. Air dengan pH dibawah 7 termasuk asam dan diatas 7 termasuk basa. pH merupakan variabel kualitas air yang dinamis dan berfluktuasi sepanjang hari. Pada perairan umum yang tidak dipengaruhi aktivitas biologis yang tinggi, nilai pH jarang mencapai diatas 8,5, tetapi pada tambak ikan atau udang, pH air dapat mencapai 9 atau lebih (Boyd, 2002).

c. Alkalinitas

Alkalinitas merupakan kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa menurunkan pH larutan. Alkalinitas merupakan buffer terhadap pengaruh pengasaman. Dalam budidaya perairan, alkalinitas dinyatakan dalam mg/l CaCO3. Penyusun utama alkalinitas adalah anion bikarbonat (HC03 -), karbonat (CO3 2- ), hidroksida (OH-) dan juga ion-ion yang jumlahnya kecil seperti borat (BO3 -), fosfat (P04 3-), silikat (SiO4 4-) dan sebagainya (boyd, 1990). Peranan penting alkalinitas dalam tambak udang antara lain menekan fluktuasi pH pagi dan siang dan penentu kesuburan alami perairan. Tambak dengan alkalinitas tinggi akan mengalami fluktuasi pH harian yang lebih rendah jika dibandingkan dengan tambak dengan nilai alkalinitas rendah (Boyd, 2002). Menurut Davis et al. (2004), penambahan kapur dapat meningkatkan nilai alkalinitas terutama tambak dengan nilai total alkalinitas dibawah 75 ppm.

d. Oksigen Terlarut (dissolved oxygen)

Oksigen terlarut merupakan variabel kualitas air yang sangat penting dalam budidaya udang. Semua organisme akuatik membutuhkan oksigen terlarut untuk metabolisme. Kelarutan oksigen dalam air tergantung pada suhu dan salinitas. Kelaruran oksigen akan turun jika suhu dan temperatur naik (Boyd, 1990). Hal ini perlu diperhatikan karena dengan adanya kenaikan suhu air, hewan air akan lebih aktif sehingga memerlukan lebih banyak oksigen. Oksigen masuk dalam air melalui beberapa proses. Oksigen dapat terdifusi secara langsung dari atmosfir setelah terjadi kontak antara permukaan air dengan udara yang mengandung oksigen 21% (Boyd, 1990). Fotosintesis tumbuhan air merupakan sumber utama oksigen terlarut dalam air. Sedangkan dalam budidaya udang, penambahan suplai oksigen dilakukan dengan menggunakan aerator (Hargreaves, 2003).

f. Biological Oxygen Demand (BOD)

Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organic pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organic ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (Pescod dalam Salmin, 2005).

g. Produktivitas primer

Dalam kolam budidaya, tumbuhan air baik macrophyta maupun plankton merupakan produsen primer sebagai sumber utama bahan organik. Melalui proses fotosintetis, tanaman menggunakan karbon dioksida, air, cahaya matahari dan nutrien untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen seperti dalam reaksi : 6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2 Fotosintesis merupakan proses fundamental dalam kolam budidaya. Oksigen terlarut yang diproduksi melalui fotosintesis merupakan sumber utama oksigen bagi semua organisme dalam ekosistem kolam (Howerton, 2001). Glukosa atau bahan organik yang dihasilkan merupakan penyusun utama material organik yang lebih besar dan kompleks. Hewan yang lebih tinggi tingkatannya dalam rantai makanan menggunakan material organik ini baik secara langsung dengan mengkonsumsi tanaman atau mengkonsumsi organism yang memakan tanaman tersebut (Ghosal et al. 2000).

Proses biologi lainnya yang sangat penting dalam budidaya perairan adalah respirasi, dengan reaksi : C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O Dalam respirasi, bahan organik dioksidasi dengan menghasilkan air, karbon dioksida dan energi. Pada waktu siang hari proses fotosintesis dan respirasi berjalan secara bersama-sama. Pada malam hari hanya proses respirasi yang berlangsung, sehingga konsentrasi oksigen terlarut dalam air turun sedangkan konsentrasi karbon dioksida naik.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Sarana Dan Prasarana

3.1.1 Sumber Air Baku dan Sarana Produksi Air Bersih

Udang merupakan hewan akuatik yang seluruh hidupnya berada dalam air, sehingga sudah tentu kualitas air baku pada unit pembenihan harus memenuhi persyaratan teknis baik secara kualitas maupun kuantitas. Sumber air laut harus memenuhi kriteria cukup dalam jumlah, jernih, salinitas 29-34 ppt, tidak terdeteksi kadar logam berat. Untuk menjamin kualitas air baku yang baik yang perlu diantisipasi dari awal adalah penentuan lokasi unit pembenihan.

        

Gambar 3.1 : pemilihan lokasi pembenihan    Gambar 3.2 :bak pengendapan air laut

Setelah mendapatkan sumber air baku yang baik, berikutnya yang penting adalah system produksi air bersih. Pada prinsipnya sistem produksi air bersih diarahkan bisa menghasilkan air yang bersih dan steril. Untuk membuat air bersih biasanya dilakukan tahap pengendapan, filterisasi secara fisik kemudian disterilkan.

Bak pengendapan sangat besar peranannya dalam upaya memperoleh air bersih. Dengan tahap pengendapan ini, maka beban filter fisik (biasanya sand filter) tidak terlalu berat dan air yang diproduksi lebih bersih. Kebutuhan kapasitas bak pengendapan masing-masing unit pembenihan berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan air bersih harian, tingkat kekeruhan air baku dan sistem filter fisik yang digunakan. Semakin tinggi kebutuhan air, semakin tinggi tingkat kekeruhan dan semakin sederhana tahapan filter fisiknya, maka semakin besar bak pengendapan yang diperlukan.

Terdapat banyak sekali desain filter fisik untuk mendapatkan air bersih. Pada prinsipnya filter fisik ini bekerja dengan manyaring air yang dilewatkan ke filter baik secara gravitasi maupun dengan tekanan pompa. Untuk lebih efektifnya filter ini biasanya dibuat bertahap dari tingkat penyaringan kasar ke tingkat yang lebih halus. Untuk memudahkan pemeliharaan filter terutama untuk pembersihan filter, maka harus dilengkapi sistem back wash. Prinsip back wash adalah dengan mengalirkan air pada bahan filter dengan arah yang terbalik, sehingga mampu mengeluarkan kotoran yang nyangkut di filter. Untuk pemeliharaan filter ini secara periodic dilakukan pembersihan total atau bahkan diganti bahan filternya.

    

Gambar 3.4 : Bak sterilisasi air laut dengan kaporit (terdiri 2 buah bak, @ 80 m2)


Presure filter (diisi karbon aktif)

Sterilisasi air ada yang menggunakan alat berupa ozonator, ultraviolet dan ada yang menggunakan bahan kimia berupa kaporit. Akhir-akhir ini mulai banyak penggunaan filter berupa membran yang dikenal dengan ultrafilter. Di dalam bak sterilisasi tersebut dilakukan sterilisasi dengan chlorinasi, yaitu dengan memberikan kaporit dengan dosis 15-20 ppm. Untuk

menetralkannya diaerasi kuat hingga 3-4 hari, jika belum netral ditambahkan Na-Thiosulfat secukupnya hingga netral (perlu dicek dengan chlorine test). Tahap terakhir adalah distribusi,
dengan memompakan air ini ke jaringan distribusi melalui karbon aktif presure filter.

3.1.2 Sarana Pembenihan Udang

Perencanaan pembangunan unit pembenihan harus menjamin kelayakan dan kemudahan teknis operasionalnya serta efisien dalam proses pembangunannya. Dari sisi kelayakan dan kemudahan teknis operasional tergantung pada kelengkapan dan kesesuaian perbandingan antara komponen bangunan bak dan sarana lainnya, sehingga tidak terjadi ketimpangan dalam pemanfaatannya. Hal itu dapat dilihat dari kapasitas sarana produksi air bersih berikut jaringan distribusinya, kapasitas bak pemeliharaan induk hingga penetasannya, kapasitas bak pemeliharaan larva, kapasitas bak kultur fitoplankton, kapasitas bak penetasan artemia, kapasitas blower berikut jaringan aerasinya, sarana monitoring serta peralatan lapangan lainnya yang

diperlukan.

Posisi antar komponen dalam menjamin kemudahan kerja dan kemungkinan pengembangan juga harus dipertimbangkan betul-betul. Sarana pendukung lainnya juga perlu dilengkapi antara lain sarana komunikasi, sarana transportasi, sarana akomodasi, sarana administrasi dan lain-lain.

    

Sarana kultur fitoplankton skala laboratorium    Sarana kultur fitoplankton skala semi masal

    

Sarana kultur fitoplankton skala masal        pemeliharaan larva udang

    Lingkungan bak pemeliharaan induk            Lingkungan bak pemeliharaan larva

3.2 Keberhasilan Dalam Manajement Kualitas Air

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guna meningkatkan keberhasilan dalam budidaya, antara lain :

3.1.3.1 Air

Air merupakan media hidup untuk komoditas budidaya perairan, yang didalamnya terdapat kandungan oksigen terlarut, makan dan sumber mineral di dalamnya yang dibutuhkan oleh komoditas budidaya. Adapun yang perlu diperhatikan antara lain:

Sumber Air

Yang perlu diperhatikan:

  • Lokasi sumber air
  • Waktu pengambilan air
  • Memenuhi kualitas dan kuantitas air

Tolak ukur:



Air Pengendapan

Air yang berasal dari sumber air di berikan waktu tenggang sesuai dengan mutu dan jumlah air.

Yang perlu di perhatikan:

  • Di perlukan design atau rancangan guna meningkatkan mutu sumber air

    Tolak ukur pekerjaan:

  • Kadar partikel air (TSS) turun hingga 60 ppm
  • Jumlah air cukup untuk memasok kebutuhan budidaya

Sterilisasi Air

Sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi atau mencegah hama atau penyakit yang berada di air dan diyakini dapat mengganggu proses budidaya. Yang perlu diperhatikan:

  • Menyaring air dengan kasa kelambu di mulut pipa air masuk.
  • Kasa kelambu di jahit rangkap dan diberi kotak penyangga
  • Air dimasukan ke kolam pengendapan dan disaring menggunakan plankton net/kasa sablon ukuran 160 mikron dengan diameter 50 cm senjang 3-4 meter.
  • Apabila menggunakan bahan kristida netral seperti Trichlorfon (divpon) 1 ppm, dipterex 2 ppm dan saprovon 2 ppm diperlukan waktu 5-7 hari untuk menetralkan air.
  • Menggunakan bahan kalsium hyphochlorite (kaporit) 15-30 ppm. Diperlukan waktu 1-3 untuk menetralkan.

Tolak ukur:

  • Bau khas disenfektan menghilang
  • Populasi bakteri dan molluska menurun
  • Virion negeatif

Pengapuran air awal

Yang perlu diperhatikan:

  • Pemberian jenis kapur Ca (CO3)2 dengan dosis yang sesuai pH dan alkalinitas air Tolak ukur:
    • Alkalinitas air dengan nilai kisaran 100-150 ppm diawal penebaran
    • Kisaran pH harian berkisar 7,5 – 8,3
    • Fluktuasi pH harian kurang dari 0,5


Pengisian air

Pengisian air harus melalui petak tandon dengan tujuan untuk mengurangi resiko masuknya hana, penyakit maupun virus ke area budidaya. Petak tandon adalah kolam/tambak yang terdiri dari sekat-sekat yang terbuat dari dinding bata, berfungsi sebagai tempat pengendapan air.

Petak tandon dapat terdiri dari rumput laut, ikan herbivora, dan ikan karnivora.

Penggantian Air

Penggantian air dilakukan apabila terjadi penurunan parameter kualitas air tambak/kolam/bak.

Yang perlu diperhatikan:

  • Secara visual dapat dilihat dari kejernihan(warna) air dan terdapat suspensi dari plankton yang mati.
  • Adanya buih yang besar dengan ukuran lebih dari 2cm dan tidak pecah oleh kinci air dari jarak 6 m
  • Kandungan bahan organik lebih dari 60 ppm dan BOD yang lebih dari 10 ppm Yang perlu dicermati:
    • Perubahan salinitas air tidak lebih dari 3 ppt
    • Pergantian air dapat dilakukan dengan membuang bagain dasar dan penyiponan

Tanda-tanda penurunan kualitas air

  • Nafsu makan menurun jika pada anco> 20 % dari normal
  • Populasi total bakteri> 106 CFU/ml
  • Populasi total vibrio> 103 CFU/ml
  • Ekor udang banyak yang merah
  • Plakton banyak yang mati

Jumlah penggantian air jika dengan padat tebar 30 -50 ekor/m2

  • Bulan 1: 5 – 10 % setiap 15 hari
  • Bulan 2 : 5 – 10 % setiap 7 – 10 hari
  • Bulan3 : 10–15%setiap7hari
  • Bulan4: 15–30%setiap3–5hari

Kriteria dan kategori kualitas air tambak secara fisik dan kimia

3.2.1 Manajemen Kualitas Air

Suhu

Yang perlu diperhatikan:

  • jika pada suhu 260C nafsu makan menurun
  • kesecerahan juga mempengaruhi suhu

Salinitas

Yang perlu diperhatikan

  • perubahan salinitas tidak lebih dari 3 ppt perhari untuk menghidari udang dari stres

pH air

yang perlu diperhatikan

  • pH pada bagian dasar diukur pada jam 5 pagi dan sore pada jam 16.00
  • pH optimal 7,8 – 8,2 dengan kisaran perubahan antara 0,2 – 0,5
  • jika turun hingga 7,0 perlu dikapur dengan dolomit dengan dosis 3 –5 ppm
  • bila pH mendekati 8,8 maka perlu ditambah dengan molase (tebu) dosis 3 ppm tiap 3 hari sekali
  • fluktuasi mencapai 0,5 menandakan tambak kurang karbonat, karbonat dapat dilihat dengan uji alkalinitas.
  • Jika fluktuasi kurang dari 0,2 atau sama dengan sore maka fotosintesa tidak berjalan sempurna

Alkalinitas

Yang perlu di perhatikan

  • Nilai alkalinitas harus 90 – 150 ppm, jika kurang maka perlu dilakukan pengapuran
  • Alkalinitas merupakan buffer penyangga pH di alam

Kecerahan

Yang perlu diperhatikan:

  • Diukur dengan secchi disk, sebagai tolak ukur kepadatan partikel termasuk plankton di dalam air.
  • Perbedaan kecerahan yang disebabkan plankton dengan dengan partikel terlarut adalah dengan mengamati air dialam botol. Kekeruhan partikel terlarut ditandai dengan adanya bahan terlarut apabila air didiamkan didalam botol sedangkan dari plankton tidak banyak perubahan
  • Kecerahan diukur pada jam 09.00 wib kecerahan di pertahankan 30-40 cm
  • Jika kecerahan 40 perlu dilakukan pemupukan dengan pupuk anorganik TSP dan urea 1:1, dengan dosis 3 – 5 ppm
  • Pemupukan susulan dilakukan setiap 5 –7 hari hingga plankton stabil.
  • Kandungan posphot menentukan plaknton 0,25 ppm

Oksigen terlarut

Yang perlu diperhatikan:

  • Oksigen minimal 4 ppm
  • Penggunaan kincir air untuk suplai udara, oksidasi, membuat kotoran tersuspensi dan teroksidasi. Kincir juga mengatur arus air dan penumpukanlumpur maupun menghilangkan pelapisan air oleh suhu dan salinitas

Kincir Air

Yang perlu diperhatikan:

  • Dipasang minimal pada bulan pertama pemiliharaan
  • Sebuah tambak tidak memerlukan kincir jika produksi masih 500kg/ha dengan pertumbuhan normal
  • Pada pertumbuhan 700kg/ha pertumbuhan lambat kincir tidak perlu dipasang

Kincir dan kejenuhan oksigen

Yang perlu diperhatikan:

  • Kincir harus di hidupkan apabila kejenuhan oksigen hanya berkisar 50%
  • Tingkat kejenuhan dihitung dengan mencocokan kelarutan oksigen (DO), temperatur, salinitas, dan temperatur dengan tabel kejenuhan dan dikalikan 100% = tingkat kejenuhan di air

Bahan organik

Yang perlu diperhatikan:

  • Bahan organik diukur dengan Total Bahan Organik (TOM)
  • Bahan organik di sebabkan oleh sisa bahan makanan, kotoran, dan kematian plankton dan tanaman air
  • Kandungan bahan organik 60 ppm menandakan kualitas air menurun
  • Bahan organik menjadi sumber yang dapat meracuni udang. Adanya proses reduksi
  • Pengukuran dilakukan pada petak pembesaran dan tandon. Apbila bahan organik mencapai 50 ppm maka perlu dilakukan penggantian air
  • Komposisi C/N rasio dalam bahan organik lebih dari 10 meningkatkan penguraian bahan organic
  • Sumber C didapat dari bahan karbohidrat yang dapat diberikan 1-2 kali seminggu, dosis 10 ppm dari cruede protein
  • Penurunan bahan organik ditandai dengan air tambak berwarna hijau

Lumpur dasar tambak

Yang perlu diperhatikan:

  • Nilai redok potensial lumpur menunjukan kondisi tanah yang dapat dipergunakan untuk perkembangan fenomena reaksi kimia dan biologi dalam tambak
  • Redok potensial negatif menunjukkan adanya reaksi negatif terjadi reaksi reduksi yang dapat menghasilkan reaksi senyawa kimia hidrogen sulfifa, amonoiak, nitrit.
  • Pengukuran redoks tanah dapat diukur setiap 2 minggu sekali apbila redoks mencapai -100 mv dapat menghasilkan senyawa racun nitrit dan sulfida pada pH asam dan anmoniak pada pH basa.

Pembuangan air pada saat pemiliharaan dan panen

Yang perlu diperhatikan:

  • Air yang dibuang harus melalui pipa central
  • pH = 6,0–9,0
  • TSS=
  • TotalP=0,5
  • Total anmoniak =
  • BOD5hari=

DOpagihari=>4

Manajemen fitplankton

Yang perlu diperhatikan:

  • Komunitas mikroba yang berperan dalam mengatur kondisi kultur yang dinginkan. Memanfaatkan sisa nutrien, intesitas cahaya, temperatur dan menghasilkan oksigen.
  • Keberadan fitoplaknton yang tidak terkontrol dengan baik merupakan titik awal dari permasalahan kualitas air
  • Pada salinitas yang rendah jenis alga hija kebiruan lebih banyak muncul, hal ini tidak baik karnajenis ini tidak memberikan kontribusi
  • Kematian plankton pada masa-masa awal produksi adalah karna kandungan CO2 dan kekurangan nutrien. Ditandai dengan munculnya busa. Kematian juga dapat terjadi karena adanya hujuan lebat
  • Menjaga kondisi plakton stabil dengan menjaga kebutuhan nutrien dengan pupuk anorganik 3-5 ppm
  • Penggantian air merupakakan kegiatan yang mudah dalam menjaga kepadatan plankton

Ciri-ciri plakton

Yang perlu diperhatikan:

  • Warna hijau gelap (cincau) dominasi algae hijau jenis chlorella, platymonas, carteria, chlamidomonas, pada salinitas rendah euglena dan scenedesmus lebih dominan
  • Warna hijau biru muda predominasi alga biru hijau dengan meningkatnya suhu rata-rata dan kelarutan bahan organik. Jenis 90% genus oscillatoria, phormidum, microcolus. Anabaena
  • Warna hijau kuning algae flagellata kekuningan genus chlamidomonas, dunaliella, carteria. Plankton jenis ini dapat menghambat pertumbuhan udang bahkan menyebabkan kematian
  • Warna colkat tua, plakton di dominasi oleh dinoflagellata, insang merah, insang hitam, dan insang bengkak. Dapat menimbulkan efek racun casilaxin PSP atau racun glenodine tosksik pada ikan dan kerang.
  • Warna keruh keputihan, air yang dipenuhi oleh zooplankton, jenis yang sering di ketemukan cilliata, rotifer, copepoda, nauplius. Untuk mengatasi maka diperlukan penggantian air dengan Protam (1,5 pentandial 50 EC) dengan dosis 1 ppm
  • Warna coklat kekuningan, diatom yang didonimasi oleh genus chetoceros, nitzchia, euglena.

Pembuangan jenis plankton

Mengenal kareteristik air dan dominasi plankton:

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dengan sistem manajemen kualitas air yang diterapkan dan ditunjang dengan pengelolaan pakan yang optimal produktifitas tambak umumnya mencapai 4.407 kg/3000m2 dengan padat tebar 91,8 ekor/m2. Berdasarkan analisa performance maka R/C diperoleh 1,3.

DAFTAR PUSTAKA

http://defishery.wordpress.com/2011/03/09/uu-perikanan/ di akses 12 november 2011


(http://id.wikipedia.org/wiki/udang.html, diakses 12 november 2011)


Logo Baru Universitas Khairun (UNKHAIR)

Ini dia logo baru kampus Universitas Khairun Ternate atau yang akrab di sebut UNKHAIR. Logo yang terlihat lebih simpel dan elegan ini merupakan revisi dari logo lama yang menurut saya kelihatan jadul. Dengan Logo baru ini tidak hanya UNKHAIR berusaha memperbaiki diri ke arah yang lebih baik lagi. Tapi saya berharap bahwa UNKHAIR bisa menjadi garda terdepan dari perguruan tinggi di Indonesia Timur khususnya di Provinsi Maluku Utara.
Silahkan teman-teman menggunakan logo baru ini untuk kepentingan akademis. Logo lama simpan saja di memori terdalam komputer kamu sebagai kenangan.

Logo UNKHAIR

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.095 pengikut lainnya